Pertimbangan dan Analisis dalam Memilih Saham

Pertimbangan dan Analisis dalam Memilih Saham

Keuntungan dan kerugian adalah hal yang lazim dalam investasi penanaman modal dalam bentuk saham. Adapun sumber keuntungan jika memiliki saham sebagai berikut,

  1. Deviden atau laba dari unit saham yang dimiliki dari pengelolaan perusahaan
  2. Capital Gain, artinya laba dari selisih saham ketika dibeli dan dilakukan penjualan lagi.
  3. Hak Suara, biasa pemilik saham akan memperoleh hak dalam rapat umum pemegang saham
Tidak selamanya berinvestasid dalam bentuk saham akan menguntungkan. Adakalanya akan menjadi sebuah kerugian jika tidak bisa melakukan analisis analisis tertentu. Sebab, harga saham bisa saja sewaktu waktu menurun tajam.

Untuk melakukan analisis yang tepat, maka dalam penilaian prospek akan harga saham di masa mendatang dibutuhkan beberapa analisis, Analisis tersebut :

Analisis Fundamental


Analisis Fundamental adalah sebuah strategi pengidentifikasian saham yang melihat kinerja keuangan perusahaan tersebut. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ketika membeli saham akan diperhatikan, apakah keuangan dan kinerja perusahaan tersebut baik atau tidak.

Pabila kinerja perusahaan tersebut baik, barang jelas ini memiliki prospek keuntungan yang bagus ke depannya. Investor yang melakukan analisis ini akan mencari informasi tentang bagaimana perusahaan berjalan, prospek return.

Sebagai pembanding, investor akan melakukan perbandingan keuangan dan kinerja pada saham saham perusahaan lain yang bergerak di bidang yang sama. Metode yang sering digunakan dalam analisis saham ini diantaranya: Price Earning Ratio, Earning Per share, Per book Value dan Book Value.

Analisis Teknikal

Pengertian analisis teknikal ini adalah strategi identifikasi prospek saham oleh investor berdasarkan prediksi pergerakan harga saham dan memprediksi kecendrungan pasar di masa mendatang.
contoh analisis teknikal
Contoh Analisis Teknikal, Gambar dari http://doktermarket.com
Analisis teknikal ini biasanya dilakukan setelah selesai melakukan analisis fundamental. Dasar dalam analisis teknikal ini adalah mereferensikan apa yang terjadi di pasar dan apa yang seharusnya terjadi di pasar.

Jika pada analisis fundamental, menitik beratkan apa yang sedang terjadi dan bagaimana kondisi perusahaan itu sekarang. Maka analisis teknikal lebih kepada bagaimana tren pasar. Apakah tren akan meningkat atau malah menurun ke depannya.

Untuk melakukan analisis teknikal biasanya investor akan menggunakan beberapa instrumen analisis. Misalnya MACD (Moving Average Convergence Divergence), Stochastic Oscillator dan Trendlines serta masih banyak tools untuk analisis teknikal lainnya.
Pengertian dan Instrumen Ekonomi Islam

Pengertian dan Instrumen Ekonomi Islam

Pengertian Ekonomi islam adalah ilmu yang mendalami dan menjelaskan perilaku manusian dalam usaha untuk pemenuhan kebutuhan hidup berdasarkan prinsip syari'ah islam. Ilmu dan pengaplikasiannya ini berisi petunjuk dan aturan yang berlandaskan pada syariah dengan tujuan menghindari ketidakadilan demi mendapatkan dan menggunakan sumber daya yang ada agar kebutuhan bisa terpenuhi tanpa mengesampingkan kewajiban pada Allah.

Adapun Choudhhury, dikutip oleh Yuliadi menyatakan ada 5 instrumen dalam ekonomi Islam. Ke-Lima Instrumen dalam ekonomi islam tersebut meliputi,
Kewajiban Membayar Zakat
Yang mana merupakan sebagai salah satu rukun islam. Pembayaran zakat dilakukan oleh mereka dengan kriteria tertentu. Selain hanya sebagai ibadah, zakat juga bertujuan untuk membantu sesama manusia.

Mencegah Riba
Kesenjangan pada kehidupan manusia adalah celah riba yang paling besar. Seperti dalam hal pinjam-meminjam. Di sinilah peran ekonomi islam dimana memberikan pinjaman dengan prinsip syariah tanpa menghidupkan riba.

Peningkatan Kerja sama Ekonomi
Sebagai makhluk sosial, manusia telah ditakdirkan untuk harus bekerja sama dengan orang lain. Tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri. Mereka membutuhkan orang lain agar bisa memenuhi kebutuhannya.

Jaminan Sosial
Kehormatan harga diri manusia sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia. Ini sangat penting dalam mencapai derajat manusia yang sebenar benarnya manusia. Dibutuhkan cara cara yang tidak menyimpang dari tuntunan agama. Termasuk dalam bidang ekonomi dan pemenuhan kebutuhan.

Peranan Negara
Ekonomi Islam juga tak bisa terlepas dari peran negara dalam mengatur sistem perekonomian itu sendiri. Negara sebagai pembuat aturan, berperan mengawasi, melindungi dan turun serta dalam pergelutan ekonomi Islam. Jika saja tanpa ada perlindungan dan pengakuan dari negara, maka sistem ekonomi Islam atau kerap disebut ekonomi syariah akan tandas.
Fungsi dan Manfaat Indeks Harga Saham

Fungsi dan Manfaat Indeks Harga Saham

Informasi yang tepat akurat dan relevan dijadikan sebagai salah satu pertimbangan analitis dalam investasi pada bursa saham. Salah satunya yaitu dalam bentuk indeks harga saham. Informasi ini tersaji berupa data riwayat yang mendeskripsikan perubahan harga saham yang diperdagangkan.
Secara sederhananya berikut adalah manfaat indeks harga saham tersebut,
Menghitung Total Hasil dari pasar. Indeks saham bisa digunakan dalam perhitungan agregat ataupun beberapa komponen dalam waktu tertentu. Perhitungan ini menggunakan tingkat pengembalian hasil yang dijadikan sebagai tolok ukur dalam penilaian kinerja dari portofolio individu.

Pengembangan Portofolio Indeks.Berkaitan dengan manfaat sebelumnya, dimana indeks saham bisa dijadikan sebagai tolok ukur penilaian kinerja portofolio. Barang tentu ini bisa dijadikan sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan portofolio indeks.

Sebagai penguji faktor yang Mempengaruhi Harga Pasar.  Dengan adanya indeks saham, bisa terlihat riwayat pergerakan harga saham. Kemudian, ini tentu bisa dikaitkan apa saja hal yang mempengaruhi harga saham pada saat periode tertentu.

Data Prediktif untuk Harga Mendatang.  Karena indeks ini bisa menunjukkan perubahan harga historis pada pasar. Tentu, dengan data yang telah ada bisa memperkirakan harga pasa di masa mendatang. Memang tidak sepenuhnya tidak bisa dijadikan patokan utama mengingat ada faktor lain yang mempengaruhi harga saham seperti inflasi dan lainnya. Namun, ini salah satu alat prediksi yang harus digunakan.

Sementara dari indeks harga saham ini, diharapkan akan didapatkan fungsi indeks ini sebagai,

  1. indikator trend pasar
  2. indikator tingkat keuntungan
  3. tolok ukur (benchmark) kinerja suatu portofolio
  4. Fasilitator dalam pembentukan portofolio dengan srategi pasif
  5. fasilitator dalam perkembangan produk derivative.
Fatwa MUI No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Asuransi Syariah

Fatwa MUI No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Asuransi Syariah

Fatwa No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah

Menimbang :

a. Bahwa dalam menyongsong masa depan upaya mengantisipasi kemungkinan terjadinya resiko dalam kehidupan ekonomi yang akan dihadapi, perlu dipersiapkan sejumlah dana tertentu sejak dini.

b. Bahwa salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan data tersebut dapat di lakukan melalui asuransi.

c. Bahwa bagi mayoritas umat Islam Indonesia, asuransi merupakan persoalan baru yang masih banyak dipertanyakan; apakah status hukum dan cara aktivitasnya sejalan dengan prinsip-prinsip syariah.

d. Bahwa oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab pertanyaan masyarakat, Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang asuransi syariah yang berdasarkan prinsip syariah untuk dijadikan pedoman oleh pihak-pihak yang memerlukannya.

Menimbang :

1. Firman Allah tentang perintah mempersiapkan hari depan: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di perbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr (59) ayat 18).

2. Firman Allah tentang prinsip-prinsip bermuamalah, baik yang harus dilaksanakan maupun dihindarkan, antara lain:

   1) Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.(QS. Al-Ma’idah (5) ayat 1).

    2)Hai orang-orang  yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perrbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Ma’idah (5) ayat 90).

   3)Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al-Baqarah (2) ayat 275).

   4) Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah (2) ayat 278).

   5) Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak oula dianiaya. (QS. Al-Baqarah (2) ayat 279).

   6) Dan jika (orang yang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh samapi dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah (2) ayat 279).

   7) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu denagan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS. An-Nisa’(4) ayat 29).

3. Firman Allah tentang untuk saling tolong-menolong dalam perbuatan positif, antara lain; Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-nya. (QS.Al-Ma’idah (5) ayat 2).

4. Hadis-hadis Nabi saw. tentang beberapa prinsip bermuamalah, antara lain:

   1) Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat; dan Allah senatiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya. ( HR. Muslim dari Abu Hurairah)

   2) Perumpamaan orang yang beriman dalam kasih sayang, saling mengasihi dan mencintai bagaikan tubuh (yang satu); jikalau satu bagian menderitaa sakit maka bagian lain akan turut menderita. (HR. Muslim dari An-Nu’am bin Basyir)

   3) Seorang mukmin dengan mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan, satu bagian menguatkan bagian yang lain. (HR. Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari)

   4)  Kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat kecuali syarat yang mengharamkanyang halal atau menghalalkan yang haram. (HR. At-Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘auf).

   5) Setiap amalan itu hanyalah tergantung niatnya. Dan seseorang akan mendapat ganjaran sesuai dengan apa yang di niatkan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Umar binAl-Khattab).

   6) Rasulullah saw. melarang jual beli yang mengandung gharar. (HR. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

   7)  Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran hutangnya. (HR. Al-Bukhari).

  8)  Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain. (HR. Ibnu Majah dari ‘Ubadah bin Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Abbas dan Malik dari Yahya).

5.Kaidah Fikih yang menegaskan :

1. Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
2. Segala mudharat harus dihindarkan sedapat mungkin.

3. Segala mudharat (bahaya) harus dihilangkan.


Memperhatikan :

  1. Hasil Lokakarya Asuransi Syariah DSN-MUI tanggal 13-14 Rabiuts Tsani 1422 H/4-5 Juli 2001 M.
  2. Pendapat dan sarana peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada Senin, tanggal 15 Muharram 1422 H/09 April 2001.
  3. Pendapat dan saran peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada 25 Jumadil Awwal 1422 H/15 Agustus 2001 dan 29 Rajab 1422 H/17 Oktober 2001.
Dewan Syariah Nasional Menetapkan: Fatwa tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

1. Pertama : Ketentuan Umum

1) Asuransi syariah (ta’min, takaful, atau tadhamun) dalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru’ yang memberikan polapengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

2) Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada poin (1) adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram, dan maksiat.

3) Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersil.

4) Akad tabarru’ adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan tolong-menolong, bukan semata untuk tujuan komersil.

5) Premi adalah kewajiban peserta asuransi untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan asuransi sesuai kesepakatan dalam akad.

6) Klaim adalah hak peserta asuransi yang wajib diberikan diberikan oleh perusahaan asuransu sesuai kesepakatan dalam akad.

2. Kedua : Akad dalam asuransi

1)Akad yang dilakukan antara peserta dengan perusahaan terdiri atas akad tijarah dan akad tabarru’.

2) Akad tijarah yang dimaksud dalam ayat (1) adalah mudharabah. Sedangkan akad tabarru’ adalah hibah

3) Dalam akad, sekurang-kurangnya harus disebutkan :

     a)Hak dan kewajiban peserta dan perusahaan.

     b)Cara dan watu pembayaran premi.

     c) Jenis akad tijarah dan akad tabarru’ serta syarat-syarat yang disepakati, sesuai dengan jenis asuransi yang diakadkan.

3. Ketiga : Kedudukan para pihak dalam akad tijarah dan tabarru’

1)      Dalam akad tijarah (mudharabah)perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola) dan peserta bertindak sebagai shahibul maal (pemegang polis).

2)      Dalam akad tabarru’ (hibah), peserta memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah. Sedangkan perusahaan bertindak sebagai pengelola dana hibah.

4. Keempat : Ketentuan dalam akad tijarah dan tabarru’

1)      Jenis akad tijarah dapat diubah menjadi jenis akad tabarru’ bila pihak yang tertahan haknya,  dengan rela melepas haknya sehingga mengugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan kewajibannya.

2)      Jenis akad tabarru’ tidak dapat diubah menjadi akad tijarah.

5. Kelima : Jenis asuransi dan akadnya

1)      Dipandang dari segi jenis asuransi itu terdiri atas asuransi kerugian dan asuransi jiwa.
2)      Sedangkan akad bagi kedua jenis asuransi tersebut adalah mudharabah dan hibah.

6. Kekenam : Premi

1)      Pembayaran premi didasarkan atas jenis akad tijarah dan jenis akad tabarru’.

2)      Untuk menentukan besarnya premi perusahaan asuransi syariah dapat menggunakan rujukan, misalnya tabel mortalita untuk asuransi jiwa dan tabel morbidita untuk asuransi kesehatan, dengan syarat tidak memasukkan unsur riba dalam perhitungannya.

3)      Premi yang berasal dari akad mudharabah dapat diinvestasikan dan hasil investasinya dibagihasilkan kepada peserta.

4)      Premi yang berasal dari akad tabarru’ dapat diinvestasikan.

7. Ketujuh : Klaim

1)      Klaim dibayarkan berdasarkan akad yang disepakati pada awal perjanjian.
2))      Klaim dapat berbeda dalam jumlah, sesuai premi yang dibayarkan.
3)      Klaim atas akad tijarah sepenuhnya merupakan hak peserta, dan merupakan kewajiban perusahaan untuk memenuhinya.
4)      Klaim atas akad tabarru’ merupakan hak peserta dan merupakan kewajiban perusahaan, sebatas yang disepakati dalam akad.

8. Kedelapan : Investasi

1)      Perusahaan selaku pemegang amanah wajib melakukan investasi dari dana yang terkumpul.
2)      Investasi wajib dilakukan sesuai dengan syariah.

9. Kesembilan : Reasuransi

Asuransi syariah hanya dapat melakukan reasuransi kepada perusahaan reasuransi yang berlandaskan prinsip syariah.

10. Kesepuluh : Pengelolaan


1)      Pengelolaan asuransi syariah hanya boleh dilakukan oleh suatu lembaga yang berfungsi sebagai pemegang amanah.

2)      Perusahaan asuransi syariah memperoleh bagi hasil dari pengelolaan dana yang terkumpul atas dasar akad tijarah (mudharabah).

3)      Perusahaan asuransi syariah memperoleh ujrah (fee) dari pengelolaan dana akad tabarru’ (hibah).

11. Kesebelas : Ketentuan tambahan

1)      Implementasi dari fatwa ini harus selalu dikonsultasikan dan diawasi oleh DPS.

2)      Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

3)      Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan jika dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta
Tanggal : 17 Oktober 2001
Apa itu Investasi? Berikut Pengertian dan Ciri Ciri Investasi

Apa itu Investasi? Berikut Pengertian dan Ciri Ciri Investasi

Antara investasi dan tabungan terkadang orang masih banyak yang menganggapnya sama. Memang secara kasat mata ini sama sama harta yang dimiliki oleh seseorang. Investasi masa depan, ya begitu kalimat paling lazim yang sering anda dengarkan.
Pengertian dan Ciri Ciri Investasi
Pengertian investasi menurut ahli, dikutip dari Sukirno,  adalah pengeluaran dalam rangka menanam modal seperti kegiatan pembelian barang modal, perlengkapan untuk produksi dengan tujuan meningkatkan produktivitas barang dan jasa dalam ekonomi.

Pada prakteknya, pencatatan nilai modal yang ditanam, dilakukan dalam perioda tahun tertentu.  Adapun yang termaktub dalam modal investasi ini sebagai berikut,

  1. Pembelian barang seperti mesin untuk produksi dalam sektor produksi dan industri
  2. Pendirian aset fisik seperti rumah, bangunan pabrik ataupun kantor.
  3. Pembelian ataupun penambahan nilai pada barang seperti stok bahan mentah untuk produksi
Berdasarkan defenisi di atas, bisa disimpulkan bahwasanya ciri ciri investasi adalah,
1) Bermanfaat dalam periode waktu tertentu. Artinya, kegiatan yang dilakukan akan memperoleh manfaat dalam peningkatan nilai ekonomi.

2) Nilai, akan besar jika dibandingkan dengan output yang dihasilkan dalam periode tertentu. Memang bisa dikatakan akan memperoleh tertentu. Namun hasil dari investasi tersebut (dalam satu kali menghasilkan) tidak akan lebih besar dari nilai pembelian investasi itu sendiri. Mungkin nilainya akan besar dalam beberapa kali kegiatan produksi. Contoh membeli mesin pabrik, pada produksi pertama dari mesin tersebut tidak akan melebihi nilai pembelian mesin itu.

3) Menyangkut ciri kedua, sebuah investasi akan dirasakan manfaatnya dalam waktu panjang dan berulang kali.
Akad Kontrak Kemitraan Syariah (Syirkah)

Akad Kontrak Kemitraan Syariah (Syirkah)

Berbagai macam akad mengenai kontrak kemitraan seperti Mudharabah, Musyarakah, Muzara’ah. Namun pada bab ini hanya membahas kontrak-kontrak kemitraan yang memiliki standar akuntansi keuangan dalam PSAK Syariah yaitu Mudharabah (PSAK No. 105)dan Musyarakah (PSAK No.106).
Baik Mudharabah mapun musyarakah merupakan akad kerjasama, akad semacam ini dikenal dengan akad bagi hasil. dimana pihak yang mengelola dana akan mengembalikan pinjamannya beserta bagi hasil. Metode bagi hasil dalam PSAK Syariah terdapat dua macam yaitu Revenue Sharing dan Profit Sharing. Pada dasarnya revenue sharing diambil dari pendapatan, namun dalam PSAK menyebutkan dasar perhitungan revenue sharing adalah dari laba kotor. Sedangkan profit sharing adalah laba bersih perusahaan.

Sebagai contoh sederhana, A dan B melakukan kerjasama dalam membuk usaha. Dari hasil usaha tersebut diketahui, pendapatannya 100 juta, biaya-biaya yang dikeluarkan 80 juta. Nisbah (persentasi bagi hasil) antara A dan B adalah 50:50. Jika menggunakan metode revenue sharing, maka masing-masing mendapatkan 50 juta, namun jika menggunakan profit sharing maka masing-masing mendapatkan 10 juta (50% x(100 juta – 80 juta)).

Sedangkan berdasarkan standar AAOIFI, hanya metode profit sharing yang diperkenankan. Namun Indonesia memberika solusi lain, mengapa demikian, karena ada biaya-biaya yang tidak dapat diawasi atau dikendalikan oleh pemilik modal ketika pemilik modal di lapangan, maka metode revenue sharing banyak digunakan di bank-bank syariah di Indonesia. Selain itu, metode revenue sharing, tidak akan menggambarkan angka minus (masa ada penjualan minus)
Bagaimana jika menggunakan metode profit sharing dan terjadi rugi? Nah akan kita bahas pada masing-masing akad.

Ketika melakukan bagi hasil, maka wajib menggunakan pencatatan berdasarkan kas (cash basis), karena pihak-pihak hanya menerima yang pasti seperti pendapatan yang sudah pasti diterima, bukan pendapatan yang masih memiliki unsur piutang yang belum tentu tidak tertagih di masa mendatang.  Karena syariah menghindari ketidakpastiah (gharar)

Mudharabah

Merupakan akad kerjasama dimana satu pihak memiliki dana (shahibul maal) dan pihak lainnya sebagai pengelola dana (mudharib). Mudharabah pada dasarnya menggunakan asas kepercayaan, maka jaminan (kafalah) masih meragukan. Sedangkan dalam bank syariah, ketika bank mengeluarkan pembiayaan Mudharabah, maka nasabah harus menyebutkan jaminan, hal ini kembali pada kaidah fiqih muamalah tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Walaupun bank syariah memberikan pinjaman untuk membantu nasabah dalam membuka usaha, namun bank butuh suatu hal yang disebut jaminan untuk memastikan nasabah benar-benar menggunakan uangnya dan bank mendapatkan return atas hasil pinjaman tersebut.

Dalam bank syariah, mudharabah tidak hanya terdapat saat penyaluran dana berupa kredit (pembiayaan), namun pada saat penghimpunan dana pun bank syariah menggunakannya dalam bentuk tabungan dan deposito mudharabah, sehingga nasabah yang menyimpan uang berupa tabungan mudharabah, maka nasabah akan memperoleh return berupa bagi hasil, karena uang yang disimpang memiliki akad bahwa nasabah penyimpan bekerja sama dengan bank agar bank mengelola, dan uang tersebut akan menghasilkan maka akan mencantumkan nisbah bagi hasil.  uang yang disimpan nasabah dalam bentuk mudharabah, tidak diakui sebagai hutang bank melainkan sebagai Dana Syirkah Temporer.

Macam-macam mudharabah terdiri dari:

  1. Mudharabah Mutlaqah, yaitu pemilik dana memberi kebebasan pengelola untuk menginvestasikan atau mengelola uangnya dalam berbagai sektor, wilayah ataupun waktu.
  2. Mudharabah Muqayyadah, yaitu pemilik dana memberikan batasan-batasan kepada pengelola agar dananya diinvestasikan pada wilayah tertentu, sektor terbentu, waktu tertentu dan sebagainya.
Jika terjadi kerugian dalam usaha, maka pemilik dana yang menanggung kerugian seluruhnya karena pemilik dana memiliki usaha seluruhnya. Namun jika kerugian tersebut disebabkan oleh pengelola dana, maka pengelola dana yang menanggun kerugian seluruhnya. Hal ini terjadi apabila menggunakan metode profit sharing dan hal ini tidak akan terjadi jika menggunakan metode revenue sharing karena revenue diambil dari pendapatan atau laba kotor, sedangkan kerugian dan biaya-biaya adalah urusan pengelola dana.

Itu sebabnya revenue sharing sangat konservatis, karena revenue sharing digunakan untuk menanggulangi biaya atau kerugian yang sulit ditrace apakah benar biaya atau kerugian tersebut disebabkan oleh pengelola dana. Mengapa sulit ditrace? Karena pemilik dana tidak terjun langsung dalam pengelolaan usaha tersebut.

Musyarakah

Adalah akad kerjasama dimana semua pihak memiliki kontribusi dana, jika memperoleh keuntungnan maka dibagi berdasarkan kesepakatan (baik itu menggunakan revenue sharing ataupun profit sharing), namun jika mengalami kerugian maka dibagi sesuai porsi modal masing-masing pihak (jika menggunakan profit sharing). Musyarakah berasal dari kata syirkah yang artinya serikat/kerjasama

Macam-macam Musyarakah
#Musyarakah Al Mulk (kepemilikan)

  1. Al Ikhtiyar, yaitu kepemilikan bersama dengan menguasahakan sesuatu, missal sepasang suami istri menabung bersama untuk membeli rumah atau membuka rekening bersama,
  2. Al Jabariyah, yaitu kepemilikan bersama bukan dari suatu hal yang diusahakan,misalnya mendapat warisan.

#Musyarakah al Uqud (kerjasama)

  1. Al Abda
  2. Al Inan
  3. Al Mufawadah
  4. Al Wujuh

Dari keseluruhan akad kemitraan, ada beberapa sumber hukum dari Al Quran dan Hadist, namun satu landasan saja yang di posting dalam blog ini yaitu Hadist:
“Tangan Allah di atas dua orang yang berserikat selama keduanya tidak saling mengkhianati.” HR. ad-Daruquthni (3/35).
Dari hadist di atas jelas dikatakan bahwa Allah berada di antara orang-orang yang melakukan syirkah (serikat), sehingga usahanya berhkah selama halal dan salah satu pihak tidak saling mengkhianati.
Dikutip dari : http://aksyarkrisno.blogspot.co.id/2014/12/kontrak-kemitraan-syirkah.html ( Krysno Septyan)
Sejarah Akuntansi Syariah di Indonesia

Sejarah Akuntansi Syariah di Indonesia

Entitas yang pertama kali berdiri adalah Mith Gamr Bank di Mesir, kemudian di ikuti oleh Negara-negara lain terutama di bagian Eropa mulai membuka bank dengan sistem bagi hasil. Maka sejak saat itu dikenal bahwa perbedaan bank syariah dan bank konvesional adalah bagi hasil dan bunga. Dalam praktiknya sekarang ini, pernyataan tersebut benar, tapi tidak sepenuhnya benar, akan dibahas lebih lanjut pada subab Perbedaan Entitas Syariah dan Entitas Non Syariah.

Di Indonesia pun pada tahun 1991 mulai mendirikan bank syariah pertama yaitu Bank Muamalat Indonesia. Bank Muamalat Indonesia merupakan hasil kerja Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mencoba untuk menyediakan instrument keuangan yang sesuai syariah bagi masyarkat muslim, walaupun masyarakat non muslim juga dapat menggunakan bank ini. Hingga Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) membuat Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 59 tentang Perbankan Syariah.

PSAK yang diterbitkan oleh IAI ini yaitu PSAK No.59 mengacu pada PSAK No. 31 yaitu perbankan, dimana paragraf-paragraf yang tidak bertentangan dengan syariah diadopsi ke PSAK No. 59. Selain PSAK No. 31, IAI juga mengacu pada Standar AAOIFI (Accounting and Auditing Organization fo Islamic Financial Institution) yang ada di Bahrain.

Tahun 1998 di Indonesia terjadi Krisis Moneter dan yang mampu bertahan secara stabil dalam keadaan tersebut adalah Bank Syariah. Melihat kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan peraturan menyatakan bahwa bank dapat membuka dual banking system dimana bank-bank konvensional juga dapat membuka bank syariah di dalamnya dengan sebutan Unit Usaha Syariah. Tahun 2004, MUI mulai mengeluarkan fatwa No.1 bahwa bunga bank adalah haram, hal ini memeberikan kedudukan bank syariah semakin kuat di tanah air.

Seiring berjalannya waktu, entitas syariah mulai bermunculan di Indonesia, tidak hanya bank tapi juga lembaga keuangan lainnya seperti asuransi syariah, pegadaian syariah, leasing syariah dan lainnya. Tentunya entitas non bank tidak relevan menggunakan Standar Akuntansi yang mengatur tentang bank syariah. Dengan demikian, IAI, MUI, para akademisi dan para praktisi berkumpul untuk merumuskan Standar Akuntansi Keuangan Syariah (SAK Syariah). Maka PSAK No. 59 pada paragraf-paragraf tertentu dicabut dan digantikan dengan PSAK No. 101 hingga PSAK No. 110

SAK Syariah tersebut mengatur tentang:
  1. PSAK No. 101. tentang Penyajian Pelaporan Keuangan
  2. PSAK No. 102 tentang Akuntansi Murabahah
  3. PSAK No. 103 tentang Akuntansi Salam
  4. PSAK No. 104 tentang Akuntansi Istishna
  5. PSAK No. 105 tentang Akuntansi Mudharabah
  6. PSAK No. 106 tentang Akuntansi Musyarakah
  7. PSAK No. 107 tentang Akuntansi Ijarah
  8. PSAK No. 108 tentang Asuransi Syariah
  9. PSAK No. 109 tentang Zakat Infaq dan Sedekah
  10. PSAK No. 110 tentang Sukuk
Selengkapnya untuk membaca lengkap PSAK Standar Akuntansi Syariah ini bisa mengunjungi halaman resmi IAI: http://iaiglobal.or.id/

Loading...